Sumber: pexels.com

Lubang Tikus
Karya: Aksa Maranata Silalahi

Panas dan gerah layaknya lubang tikus
Yang menjadi simpulan cerita saat itu
Tak ada suara
Tak ada kata
Bahkan kawan dengan segala candaannya
Tak ada lagi yang menghampiri
Seorang diri cemburu dengan tatapan kosong
Melihat semut yang membersamai dinding yang kesepian
Terlihat sebelah kanan
Hampa yang kini bosan dan heran
Campur aduk yang kian menghantui
Terlihat sebelah kiri
Kipas dengan titik sumbu
Dengan setianya mengelilingi panasnya hati ruangan

Hati dan pikiran menjadi satu…
Namun, seperti lubang tikus…
Tak ada ruang berkata
Tak ada ruang bercanda
Sunyi tanpa suara
Hening tanpa detik yang tak lagi berdetak




***


Sumber: pexels.com

Rak-rak Dadaku
Karya: Aksa Maranata Silalahi

Hingga keringnya serta gugur pohon-pohon berdaun itu…
Rak-rak dada ini masihlah setia
Tertinggal di permukaan paling cermin
Dengan kemiringan sepi awan
Melingkari lengan angin bulan
Tudung-tudung hati berpesta
Dalam sedekap tangan
Membelah sayap-sayap malam
Pada penghujung itu
Malam satu waktu lalu
Rak-rak hatiku tetap jua berbicara kehilangan lagi
Bukan perihal kehilangan
Titik-titik paling air mata
Hanya saja sekelebat rupa melintas  tersimpan di dalam folder kenangan
Akhirnya tangan-tangan  berkejaran
Dari satu tanah menuju langit-Nya
Bumi yang lembut berada di sini untuk memuntahkan segala kegagalan
Jua bagaimana aku bisa seperti ini ketika langit tak jua berujung?
Sebagaimana kalimat yang tak sempurna harus ditanggung sendiri
Baik atas segala yang tampak di depan atau di belakang
Kembali aku meletakkan inginnya waktu pada lemari gantung
Sebagai wajah doa yang belum segera bertuan dan sampai tujuan
Hingga mengeringnya dedaunan itu
Kini pergi menjadi hal harus mengingat lusuh hati paling riuh
Memecahkan alis jembatan panjang
Yang mengempas segudang pengharapan
Dalam menancapkan perekat panah di tebing dadaku
Hari-hari yang dieja ini akhirnya berlalu
Saat harum waktu itu terus berayun dalam abu
Gugur pohon-pohon berdaun itu meremas rak-rak dada
Di permukaan cermin yang tak sempurna dari keinginan!


Editor: Rosa Putri Theresia Sinaga