Sumber: Sastranesiapers.id

Medan, SastranesiaPers – Cerita rakyat dapat menjadi ciri khas suatu daerah. Namun, tidak menutup kemungkinan adanya kemiripan cerita pada daerah yang berbeda. Salah satunya cerita Putri Hijau yang selama ini terkenal berasal dari etnis Melayu. Ternyata ditemukan sumber-sumber lain mengenai cerita Putri Hijau, seperti dari etnis Karo dan versi-versi lainnya.

Melihat keberagaman ini, mahasiswa Sastra Indonesia 2021 berkolaborasi dengan Andika Syahputra mengadaptasi cerita Putri Hijau melalui pertunjukan Sandyakala Nusantara dalam projek Manajemen Pertunjukan yang diampu oleh Ibu Hera Chairunisa, S.Sos., M.Si dan Bapak Hendra Kurnia Pulungan, S.Sos., M.I.Kom.

Sumber: Sastranesiapers.id

Pertunjukan Sandyakala Nusantara mengangkat cerita rakyat dengan aliran surealis. Tokoh utama secara misterius masuk dalam lukisan Putri Hijau dan menyaksikan perjalanan berat yang dialami sang Putri Hijau, tepat setelah ia menyepelekan nilai sejarah.

Pertunjukan Putri Hijau Sandyakala Nusantara mendapatkan respon positif dari para penonton. Tidak hanya terhibur, tetapi pesan yang ingin disampaikan oleh tim pertunjukan juga tersalurkan.

“Saya merasa terhibur, mendapatkan pelajaran berupa pesan yang tersirat dari pertunjukan yang saya tonton, dan kagum kepada para mahasiswa yang merupakan mahasiswa sastra bukan mahasiswa seni namun bisa membuat pertunjukan semegah dan semenarik itu. Adapun pesan yang saya dapatkan setelah menonton pertunjukan itu, bahwa kita tidak boleh menyepelekan kepada cerita rakyat karena itu termasuk budaya yang dulunya dipercayai sampai saat ini,” ujar Rizka—salah satu penonton pertunjukan.

Adapun tanggapan dari penonton lainnya, “Dari Legenda Putri Hijau kita diajarkan tentang keberanian dan kesetiaan. Selain itu, kita juga mendapatkan pesan-pesan moral seperti pengorbanan untuk kebaikan, kesetiaan terhadap janji, dan pentingnya menjaga keadilan,” ujar Putri Dyah.

Sumber: Sastranesiapers.id




Penulis: Putri Nabillah Lubis