Dunia penyiaran Indonesia berkembang pesat seiiring dengan kemajuan teknologi serta dinamika masyarakat. Untuk memberikan keseimbangan dalam memperoleh informasi, pendidikan, kebudayaan, dan hiburan yang sehat bagi masyarakat. Radio dianggap sebagai media penyiaran yang dekat dengan masyarakat. Oleh sebab itu, sampai saat ini radio masih menjadi sarana komunikasi yang populer meskipun banyak berbagai srana informasi dan komunikasi yang lebih mutakhir, seperti televusi, internet, dan sebagainya. Media auditif ini dipandang mampu memberikan informasi kepada masyarakat secara cepat, murah, dan luas jangkauannya.
Penulisan naskah berita berperan sangat penting posisinya dalam siaran berita radio. Dalam menulis naskah siaran penulis naskah harus mampu menulis dengan gaya bahasa percakapan atau lisan secara ringkas, padat, dan jelas. Penulis naskah juga harus menguasai tata aturan teknik penulisan naskah radio. Selain itu, penulis naskah dituntut untuk menguasai perbendaharaan kata, bahasa, istilah, serta peka dan selalu mengikuti setiap peristiwa dan isu aktual, tren, mode, dan gaya hidup. Penulis naskah juga harus memahami stasiun format dan siapa sasaran pendengarnya dan mengemasnya dengan Fun dan menyegarkan.
Karena memiliki asa penasaran terhadap dunia penyiaran terutama akan pembuatan naskah radio, Pada hari Senin tanggal 20 maret kami datang ke RRI MEDAN yang terletak pada Jl. Gatot Subroto No. 214, Sei Sikambing C. II, Kec. Medan Helvetia, Sumatera Utara. Kami datang dan langsung mewawancarai salah satu pengurus Ibu Asyifah Nur Istianty S.Ag atau biasa dipanggil dengan bunda kami bertanya mengenai proses penulisan naskah siaran radio yang ada di RRI MEDAN ini seputar naskah dalam penyiaran radio.
Berikut adalah beberapa proses penulisan naskah yang ada pada radio RRI MEDAN, berdasarkan hasil wawancara bersama Ibu Asyifah Nur Istianty S.Ag, kami bertanya sesuai penjabaran berikut yang langsung di tanggapin oleh bunda sendiri.
- Menulis naskah di radio tidak sama dengan menulis untuk televisi maupun media cetak. Karena di radio kita menulis sebagai konsumsi telinga untuk didengarkan langsung. Nah pertanyaannya, dalam menulis naskah radio perlukah menggunakan diksi yang sama seperti media cetak atau televisi?
Jawab : Dalam radio ini yang perlu itu harus lebih tajam dalam imajinasinya mbak. Contohnya seperti pertempuran yang menandakan ada suara alam terbuka, pedang dan benturan mbak. dimana juga harus ada backsound yang mendukungnya mbak. Dimana kita di dalam ruangan radio kita juga harus ngomong sehingga kita bisa mengajak pendengar untuk berimajinasi. - Apakah dalam penyiaran radio berlangsung, apakah penyiar yang melakukan siaran tanpa naskah? Selama proses penyiaran berlangsung!
Jawab : Jadi awal-awal mbak penyiar tidak langsung jadi dimana harus latihan apalagi RRI itu tidak main-main dalam bahasanya. Dimana bahasa RRI ini berbeda dengan radio swasta karena RRI untuk pedoman orang-orang penyiarnya yang ngomong bahasanya dengan baik dan benar dan sudah tertata dan tidak sembarangan. Jadi awal-awal masuk menjadi penyiar RRI itu harus ditulis dulu mbak dan wajib agar tidak salah dan nanti lama-lama secara otomatis tidak pakai itu lagi dan pasti itu kan sudah hapal. - Kalau boleh tau dalam penulisan naskah radio berapa lama sih waktu yang digunakan dalam menulis sebuah naskah?
Jawab : Sebenarnya cepat apalagi kalau sudah bidangnya kita enak apalagi kalau sudah dapat ide tinggal menuangkannya saja dengan hitungan detik. - Radio ini kan sifatnya untuk didengar, pastinya penyiar harus bagus dalam membawakan berita yang ingin dia sampaikan, apakah ada penyiar radio yang menuliskan naskahnya sendiri tanpa bantuan scrip writer?
Jawab : Iya, jadi kalau dalam membuat naskahnya sendiri penyiar memang harus pande membuat naskahnya sendiri. Dimana mau gak mau saat disuruh membuat naskah, semua penyiar harus pande kalau ditugaskan dan biasanya itu otomatis akan pandai. - Kan di program RRI ini banyak, apakah program di RRI ini bertambah terus?
Jawab : iya dong, setiap tahun kami selalu ganti. - Strategi apa yang digunakan radio RRI ini dalam mempertahankan eksistensinya di era digital saat ini? apakah kualitas penyiar berngaruh dalam mempertahankan radio ini?
Jawab : Dengan aplikasi RRI ini salah satunya biar tidak membosankan para pendengar, kemudian bisa menarik para pendengar kami yang tadinya kan anak-anak muda malas mendengarkan radio di rumah tapi sekarang dimana saja bisa mendengarkan radio sehingga inovasi-inovasi kami selalu ada dan tetap. - Bagaimana kriteria berita yang layak untuk disiarkan dalam radio “RRI MEDAN” ini, apakah hanya berita tertentu saja atau bebas?Jawab : kalau soal kriteria berita yang harus disampaikan harus ada etika jurnalistiknya, harus ada rambu-rambunya yang tidak boleh.
Penulis : Enjelita Br Sirait, M. Khalil Gibran Siregar, Remo Aditya Ananta Panjaitan



