Detik.com, salah satu situs berita terkemuka di Indonesia, telah menjadi sumber informasi penting bagi masyarakat selama beberapa tahun terakhir. Dalam rangka untuk mengungkapkan lebih banyak tentang dunia jurnalistik dan proses peliputan berita di detik.com, kami berkesempatan untuk mewawancarai Koordinator Liputan detikcom Bapak Ahmad Arfah Fansuri Lubis  yang sangat berpengalaman.

Wawancara kami dengan Koordinator Liputan detik.com bapak Ahmad Arfah Fansuri Lubis tidak hanya memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana detik.com mencari dan menyajikan berita, tetapi juga memberikan pandangan yang menarik tentang evolusi industri media dan perubahan yang dialami oleh media di era digital, juga bagaimana perkembangan berita yang ada di media detik.com ini dan bagaimana proses yang ada dibalik layarnya.

Pertama-tama, kami bertanya pada Koordinator Liputan detik.com tentang cara detik.com mencari dan mengevaluasi berita yang akan disajikan. Ia menjelaskan bahwa detik.com memiliki jaringan reporter dan koresponden di seluruh Indonesia yang terus mengumpulkan informasi dari berbagai sumber. “Kami memiliki sistem manajemen konten yang sangat baik yang memungkinkan kami menyeleksi berita dengan cepat dan efisien,” kata Koordinator Liputan detik.com. “Namun, kami juga sangat berhati-hati dalam mengevaluasi setiap berita sebelum kami publikasikan. Kami harus memastikan kebenaran dan akurasi setiap informasi yang kami sampaikan kepada pembaca kami.”

Ketika ditanya tentang bagaimana detik.com beradaptasi dengan perubahan media di era digital, Koordinator Liputan detik.com mengakui bahwa ini adalah tantangan besar bagi semua media. “Kami harus terus mengikuti perkembangan teknologi dan tren yang berkembang dengan cepat. kalau detik.com bermain disemua media sosial, misal nya facebook, instagram, twitter, detiksumut juga ikut seperti itu. Program yang palinh TOP atau dikunjugi masyarakat, hampir sering itu terkait kasus pidana, apalagi yang melibatkan pejabat pemerintahan apalagi yang melibatkan polisi, biasanya banyak pembacanya. Hari ini kami sedang mengurus berita tentang istri dari sekertaris daerah riau yang pamer harta di media sosial, itu yang sedang banyak dibaca karena menarik. Lalu ada juga informasi, misal nya info lowongan kerja. Nama program nya info wak, yang isi nya lowongan kerja, atau info beasiswa. Berita yang di publis di detiksumut tidak menentu, kadang banyak, kadang sedikit, dikarenakan apakah ada kasus berita, lalu hari seperti senin-kamis masih banyak aktivitas, lalu jika masuk weekend sudah susah menghubungi pejabat tersebut. Kami secara keeluruhan detik bisa 100 lebih berita perhari” kata Koordinator Liputan detik.com. “Namun, kami tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga berusaha menjadi inovatif dan kreatif dalam menyajikan berita kepada pembaca kami.”

Koordinator Liputan detik.com juga menjelaskan bahwa detik.com terus berusaha untuk meningkatkan interaksi dan keterlibatan pembaca melalui fitur-fitur seperti kolom komentar dan forum diskusi. Dan hal ini juga masuk ke dalam strategi mereka bagaimana tetap mempertahankan pebaca yangs setia. “Jika strategi itu merupakan rahasia dapur tidak bisa diberitahu, cuman aku bisa bilang gini detik sudah ada nama sendiri tinggal kami menjaga kepercayaan  supaya nama yang baik itu tidak tercoreng, jika kalian ke detik ini lebih menengah keatas karena online atau web, biasanya yang menengah kebawah akan membaca koran. Kami tetap menjaga berita itu tetap benar, prima, jika ada kesalahan minta maaf tidak ragu, kami lebih sering kesalahan seperti pejabat tersebut sebenarnya tidak ingin diberitakan.,” ujarnya.

Selain itu, Koordinator Liputan detik.com juga membahas hal yang tak kalah menarik bahwasanya tentang bagaimana detik sumut mengelola dan mempublikasikan berita-berita yang kontroversial atau sensitif, dan bagaimana proses pengambilan keputusan editoral dalam hal ini “Sebenarnya berita seperti itu merupakan hal yang lumrah pada media bahkan itu makanan sehari-hari media, tinggal media tersebut apakah bisa bermain di berita itu, dengan tidak melanggar kode etik dari dewan pers dan undang-undang pers. Misal kasus seorang gubernur pindah agama, secara etik itu tidak boleh di beritakan, karena agama itu hak dari setiap orang, tetapi dari sudut pandang seorang gubernur yang pindah agama saat masih menjabat, hal itu bisa diberitakan, biasanya detik bermain disitu dengan melihat sebut kasus dari sudut pandang yang berbeda dan tidak melanggar kode etik tadi. Pernah kami (media detik) kecolongoan pada sebuah berita, kami tidak tahu bahwa korban itu anak dibawah umur, sehingga tetap beritakan ada namanya, setelah tahu kami langsung mengedit berita, untung nya media online bisa langsung edit berita, berbeda dengan media cetak, jika ada kesalahan salah satu berita yang dicetak maka ralat atau perbaikan nya akan berada di halaman dan kolom yang sama seperti sebelumnya, akan di cetak pada besok hari nya. Biasanya ralat itu akan tahu saat objek berita itu melapor, karena biasanya objek berita adalah tokoh publik yang terkenal, walau sebenarnya tidak boleh memberitakan tapi publik tetap membutuhkan berita itu, sehingga tetap dibertitakan.,” katanya. Namun, meskipun tantangan yang dihadapi oleh media semakin besar, Koordinator Liputan detik.com optimis tentang masa depan jurnalistik dan media. Beliau mempercayai bahwa media tetap menjadi kekuatan yang penting dalam memberikan informasi dan memberikan suara bagi masyarakat. Yang penting adalah bahwa media tersebut khususnya detik.com inii terus beradaptasi dengan perubahan dan tetap menjadi relevan

Penulis : Lisa Anggraini, Nailah Putri Maharani Susanti, Jeremia Anugerah Ginto Sitohang, Rosa Putri Theresia Sinaga