Awal puasa atau 1 Ramadan 1444 H diprediksi jatuh pada hari kamis tanggal 23 Maret 2023 menurut kriteria wujudul hilal dan Menteri-Menteri Agama Medan, Indonesia. Hal ini berarti puasa akan dimulai dua hari lagi. Bulan Ramadan tentunya bulan yang ditunggu oleh banyak orang khususnya kaum muslim, karena merupakan bulan yang penuh dengan ampunan. Tak hanya itu, dalam bulan Ramadan ini setiap pahala akan dilipat gandakan. Maka tak jarang kaum muslim berlomba-lomba untuk memperbanyak ibadah pada bulan berkah ini.
Dalam bulan Ramadan biasanya banyak tradisi yang melekat di Indonesia. Misalnya ngabuburit yang merupakan kegiatan menunggu waktu azan maghrib. Biasanya orang-orang ngabuburit dengan berburu takjil. Untuk takjil sendiri merupakan kudapan yang dimakan setelah berbuka puasa seperti gorengan, es campur, kolak pisang, dan lainnya. Tak hanya itu, ada juga tradisi sahur maupun berbuka bersama keluarga atau kerabat terdekat. Sayangnya tidak semua orang bisa melakukan tradisi tersebut bersama keluarga atau kerabat terdekat khususnya bagi mahasiswa rantau.
Sebagai mahasiswa yang baru merantau ke kota orang untuk menempuh pendidikan, ini merupakan pertama kalinya saya menjalani ibadah puasa Ramadan jauh dari keluarga. Tentu rasanya campur aduk, merasa sedih dan takut kesepian. Selain itu, saya sebagai mahasiswa perantauan akan mengalami suasana ibadah pada bulan Ramadan berbeda dari tempat tinggal. Perbedaan yang paling menonjol mungkin ketika sahur dan berbuka puasa. Apabila saat di rumah kita makan masakan orang rumah dan berburu takjil bersama, kali ini kita harus memikirkan sendiri, ingin makan apa, beli masakan atau memasak saja? Sungguh kebiasaan yang baru.
Ditambah lagi saat sahur biasanya dibangunkan oleh orang rumah, kini harus effort untuk bangun sendiri. Adapun kebiasaan yang baru yaitu perihal ibadah tarawih, saat di rumah saya hanya perlu datang ke masjid terdekat. Namun, di kota orang ini tidak semua tempat tinggal mereka dekat dengan masjid termasuk kos saya. Begitulah mungkin yang akan dialami oleh orang perantau kebanyakan, aneh, sedih, canggung dengan suasana puasa yang baru dan jauh dari keluarga. Tetapi kita perlu ingat bahwa kita tidak sendiri, banyak mahasiswa yang merantau di kota ini yang tentunya akan memiliki banyak kesamaan perihal kebiasaan yang baru tersebut. Sebagai sesama mahasiswa perantau kita harus saling mengingatkan, menyayangi satu sama lain seperti keluarga. Semoga ibadah puasa di perantauan tidak mengurangi eksistensi ibadah kita kepada Tuhan.
Penulis : Suri Rizki



